Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2015

Benarkah Berfikir Sesaat Lebih Baik dari Beribadah 60 Tahun?

 berpikir seribu kali

Berfikir Sesaat Lebih Baik dari Beribadah 60 Tahun?

Apa ada hadits ttg keutamaan berpikir sesaat lbh baik drpd ibadah 60 – 70 thn?? klu ada tlg penjelasannya? Banyak orang sufi menyampaikan hadis ini di forum khutbah. jazakallahu khairan…
Bahtiar – Kalimantan

Jawab:

Terdapat hadis yang menyatakan,

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun

Hadis ini disebutkan dalam kitab al-Adzamah dengan sanad: Berkata Abu Syaikh, dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Perawi  yang bernama Ishaq bin Najih dan Utsman bin Abdillah dinilai para ulama sebagai pendusta.
Ibnul Jauzi menilai hadis ini:

هذا حديث لا يصح ، وفي الإسناد كذّابان ، فما أفلت وضعُه مِن أحدهما : إسحاق بن نجيح، قال أحمد : هو أكذب الناس ، وقال يحيى : هو معروف بالكذب ووضع الحديث ، وقال الفلاس : كان يضع الحديث على رسول الله صلى الله عليه وسلم صراحا ، والثاني : عثمان ، قال ابن حبان : يضع الحديث على الثقات

Hadis ini tidak benar, sementara dalam sanadnya terdapat 2 perawi pendusta. Status palsu hadis ini disebabkan keberadaan salah satu dari mereka. [1] Ishaq bin Najih, yang kata Imam Ahmad: “Manusia paling pendusta.” Sementara Yahya bin Main berkomentar: “Terkenal suka berdusta dan memalsukan hadis.” Kata Imam al-Fallas: “Dia memalsukan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terang-terangan.”
[2] Utsman bin Abdillah, yang kata Ibnu Hibban, “Memalsukan hadis atas nama perawi.” (al-Maudhu’at, 3/144)

Karena itu, para ulama menegaskan bahwa hadis ini palsu. Ali al-Qori ketika menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,

ليس بحديث

“Bukan hadis.” (al-Mashnu’, hlm. 82)

https://hudaesce.files.wordpress.com/2011/03/berfikir.jpg

Berfikir itu Terpuji

Berfikir, merenungkan ayat-ayat Allah, dalam rangka semakin mengagungkan Allah, adalah perbuatan yang terpuji. Allah memujinya dalam al-Quran, diantaranya,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191).

Syaikhul Islam mengatakan,

النظر إلى المخلوقات العلوية والسفلية على وجه التفكر والاعتبار مأمور به مندوب إليه

“Merenunngkan penciptaan makhluk baik yang di atas maupun yang di bawah, dalam rangka mengambil pelajaran, diperintahkan dan dianjurkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 15/343)

Karena itulah, para sahabat menyukai berfikir. Merenungkan ayat Allah, baik ayat kauniyah (ciptaan Allah) atau ayat Syar’iyah (aturan syariat).

Ayat kauniyah menunjukkan betapa sempurna kekuasaan dan kebesaran Allah dalam menciptakan..

Ayat syar’iyah menunjukkan betapa adil dan bijaksananya Allah dalam menetapkan aturan.

Kita akan simak pengakuan para salaf (orang soleh masa silam):

[1] Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

 تفكر ساعة خير من قيام ليلة

Berfikir sesaat lebih baik dari pada qiyamullail (al-Adzamah, 1/297).

Ibnu Abbas juga mengatakan,

تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

“Belajar beberapa saat di malam hari, lebih aku sukai dari pada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.” (Mushannaf Abdurrazaq, 11/253).

[2] Abu Darda radhiyallahu ‘anhu,

مذاكرة العلم ساعة خير من قيام ليلة

“Mengkaji ilmu syariat sesaat lebih baik dari pada shalat malam”

[3] Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لأن أفقه ساعة أحب إلي من أن أحيي ليلة أصليها حتى أصبح

“Saya belajar sesaat lebih saya cintai dari pada saya habiskan waktu malam untuk shalat sampai subuh.”

Abu Hurairah juga mengatakan,

لأن أعلم باباً من العلم في أمر أو نهي أحب إلي من سبعين غزوة في سبيل الله عز وجل

“Saya memahami satu masalah ilmu, baik terkait perintah, ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Allah.”

[4] Abu Musa al-Asy’ari:

لمجلس أجلسه مع عبد الله بن مسعود أوثق في نفسي من عمل سنة

“Aku duduk belajar bersama Ibnu Mas’ud, itu lebih menenangkan hatiku dari pada beramal satu tahun.”

[5] Hasan al-Bashri :

لأن أتعلم باباً من العلم فأعلمه مسلماً أحب إلي من أن تكون لي الدنيا كلها أجعلها في سبيل الله عز وجل

“Aku memahami satu masalah ilmu syariah, kemudian aku ajarkan ke muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya yang aku jadikan untuk infak fi sabilillah.”

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber

Rabu, 16 Desember 2015

Saat Seseorang Mengganggu Pikiran Anda? Ini Nih Obatnya



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidjuzR2o5NsOBl2ul768b9zzk9faiTjA3ehXDHE3HU89_lKbGggntEFeKMUJjXvPoZGpeOu9vlpqC5yzAB7hlN3zDw3vGFd_Zl5pK30jBb50y1BttzEaNGgHTuQAE77fJBYRaAydninQ/s1600/tips-bagaimana-cara-menghilangkan-stress-berat.jpg

DALAM menjalankan kehidupan ini, tak selamanya kita merasa senang dan dalam keadaan nyaman. Pasti akan selalu ada saat-saat di mana kita berada pada titik kejenuhan. Dalam kondisi inilah banyak dari kita yang frustasi atau menurut bahasa gaulnya dikenal dengan istilah “galau”.

Penyakit seperti itu yang sering menyerang para remaja masa kini. Mereka selalu mengingat-ingat seseorang yang memang berpengaruh terhadap kehidupannya. Baik itu, kedua orang tuanya, sabhabat dekatnya, saudara-saudaranya, bahkan seseorang yang memang belum menjadi miliknya.

Ketika seseorang merasakan jatuh cinta, terutama kepada lawan jenis, pasti memikirkannya adalah hal yang selalu dilakukan. Mengingatnya menjadi suatu penyakit yang cukup membahayakan kelangsungan hidupnya. Kondisi seperti ini, membuat galau dan bukan hanya jiwanya yang terganggu, kesehatan raganya pun akan mengalami sakit jika terus berserang ingatan terhadap seseorang itu dalam benaknya. Lalu, bagaimana solusinya?

https://agusandrianto.files.wordpress.com/2010/08/muhasabah2.jpg?w=620

Ibnu Aun RA memberikan solusi tentang masalah ini. Menurutnya, “Mengingat manusia adalah penyakit, dan mengingat Allah adalah obatnya,” (Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fin Naqdi wal Hukmi ‘alal Akharin, oleh Hisyam bin Ismail As-Shayan, hal. 73).

Jadi, ketika kita memikirkan seseorang yang memang mengganggu diri kita, maka mengingat Allah adalah solusinya. Kita harus ingat bahwa Allah-lah yang memberi rasa cinta pada diri kita. Dan untuk mengatasinya, kita kembalikan lagi kepada-Nya. Kita pasrahkan perasaan itu kepada-Nya dengan meyakini bahwa Dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Mengingat seseorang boleh saja, tapi jangan sampai berkelanjutan hingga menganggu aktivitas kita. Cukuplah mengingatnya sebentar dan kita kembalikan ingatan kita kepada Allah. Hilangkan ingatan itu hanya dengan mengingat Allah. Lambat laun, kita akan mulai terbiasa kembali menjalani kehidupan dengan baik tanpa ada gangguan dalam pikiran kita.

Sumber

Inilah Amalan agar Dosa Zina Terampuni

Zina merupakan salah satu dosa besar yang dapat membawa seseorang kejalan yang sesat, tetapi ada beberapa amalan agar dosa zina terampuni dan bertaubat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan. Apa sajakah amalan yang dapat menghapus dosa zina?
Inilah Amalan agar Dosa Zina Terampuni
Islam telah mengajarkan kepada setiap umatnya untuk selalu menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan dosa zina seperti pacaran, karena zina merupakan perbuatan yang terlarang dan memiliki dosa yang sangat besar. Seseorang yang telah berbuat zina akan rusak seluruh kehormatannya di mata orang lain dan juga di hadapan Allah.
Di era modern ini, zina merupakan perbuatan yang telah banyak dilakukan oleh mayoritas orang karena mereka telah terpengaruh dengan budaya barat yang banyak menyesatkan manusia. Bahkan hal-hal yang dapat memicu terjadinya zina telah lumrah dan umum di lakukan oleh setiap orang di dunia ini seperti pacaran. Tidak hanya orang non-muslim saja yang telah membudayakan perilaku ini, bahkan umat muslim pun kini telah banyak terjerumus dalam perbuatan dosa ini.
Apakah dosa zina diampuni? Allah Maha Pengampun maka setiap hambanya diberi kesempatan untuk senantiasa bertaubat. Jika setiap manusia benar-benar ingin memperbaiki diri dan bertaubat, maka Allah akan mengampuni setiap dosa-dosa hamba-Nya karena Allah Maha Pengampun.
Setiap manusia berkewajiban untuk selalu bertaubat kepada Allah, taubat yang dilakukan harus benar-benar dari dalam hati dan tidak akan melakukan perbuatan dosa yang sama di lain waktu. Ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi oleh setiap muslim yang ingin menghapus dosa zina yang telah dilakukannya, yaitu:
1. Taubat
Cara taubat dari zina adalah berhenti dari perbuatan zina. Taubat merupakan satu hal yang wajib dilakukan oleh setiap umat muslim yang telah berbuat dosa. Taubat dapat dilakukan yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam hati akan menjauhi hal-hal yang menjurus ke perbuatan zina dan akan menjauhi perbuatan zina. Orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh akan berhenti dari perbuatan maksiat yang telah dilakukannya dan tidak akan mengulangi perbuatan maksiat yang telah dilakukannya, bahkan dia akan menjauhi semua perbuatan dosa. Allah akan membukakan pintu maaf bagi orang-orang yang dengan sungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya.
2. Menyesal
Tidak hanya berhenti dari perbuatan maksiat, seseorang yang benar-benar ingin menghapus dosanya harus memiliki penyesalan dalam hati karena telah melakukan perbuatan maksiat itu. Seseorang yang telah memiliki penyesalan dalam lubuk hati tidak akan melakukan perbuatan yang sama di lain waktu mendatang.
3. Tidak melakukan kemaksiatan lagi
Orang yang bersungguh-sungguh bertaubat tidak akan mengulangi perbuatan maksiat yang telah dilakukannya di masa lampau. Dia akan senantiasa membentengi diri dari perbuatan yang menjerumus kepada kemaksiatan sehingga tidak akan terjerumus dalam lubang yang sama.
Itulah tiga syarat utama agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah, tetapi jika dosa yang telah dilakukan seorang manusia berkaitan dengan hukum uhud maka orang yang telah berdosa itu wajib menerima hukumannya sesuai dengan syariat agama dan juga wajib untuk bertaubat agar dosanya diampuni. Salah satu contoh perbuatan dosa yang berkaitan dengan hukum uhud adalah zina.
Berzina adalah dosa besar, apakah dapat terampuni? Seseorang yang telah menikah tetapi melakukan zina, maka dia wajib menerima hukuman rajam yaitu dilempari batu hingga mati. Tetapi jika seseorang yang telah melakukan zina merupakan seseorang yang belum menikah maka dia wajib dihukum cambuk sebanyak 100 kali. Setelah menerima hukuman sesuai dengan syariat agama maka orang itu wajib bertaubat kepada Allah agar semua dosanya diampuni.
Itulah beberapa informasi seputar beberapa amalan agar dosa zina terampuni dan setiap umat muslim wajib mengetahuinya.

Komik Muslimah : 20 Alasan NGGA MAU BERJILBAB





alasan gak berjilbab #1

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Nah, ini dia awal maraton dari komik alasan-alasan yang sering dipake untuk gak berjilbab, dan disertai dengan balasan dari alasan tersebut. Subhanallah, proyek maraton yang lumayan juga nih... :)

Quote alasan dan balasan dari komik-komik ini diambil dari beberapa sumber. Untuk komik yang ini sumbernya adalah Ust. Felix Siauw, yang saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan. 

Maraton ini insya ALLAH rencananya bakal jadi maraton yang panjang karena akan ada lebih dari 10 komik, dan harapannya nanti komik-komik ini bisa digabungin jadi satu buat dijadiin poster ajakan make jilbab. Mohon doanya biar lancar ya! :D

alasan gak berjilbab #2

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Itu namanya generalisasi, sama aja kayak bilang "semua burung hitam adalah gagak". Itu gak adil, dan jujur saja, itu nyakitin... :(
PS : yang mau rekomendasi artikel atau quote buat dijadiin komik juga boleh banget lho :) 
 

alasan gak berjilbab #3

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Kembali lagi ke dasar, yaitu definisi dari iman. OK? :)
 
PS: Jika saya mengambil quote dari tempat lain, insya ALLAH sumbernya pasti saya tulis di post tersebut. Jika di post tidak tercantum sumber apapun (seperti di post ini dan post sebelumnya), berarti quote tersebut memang tidak bersumber dari tempat lain. Ini sebagai jawaban kenapa di post ini dan post sebelumnya tidak dicantumkan sumber :)
 

alasan gak berjilbab #4

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Ayo berusaha yang terbaik dalam menaati perintah ALLAH :)
 
Komik yang ini sumber quote alasan dan balasannya dari Ust. Felix Siauw, dan saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan ^ ^

PS : BTW, pada nyadar gak, dari beberapa hari yang lalu label komiknya nambah satu lho, yaitu 'ayo berjilbab'. Ke depannya, komik dengan tema ini bakal semakin banyak, jadi saya pikir penting buat nambahin label ini :)
 
 

alasan gak berjilbab #5

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
:)
 
Hari ini Alhamdulillah semua sketsa untuk maraton komik jilbab ini selesai. Totalnya ada 20 komik (huaaa), dan karena bakalan garing kering kerontang kriuk kalo langsung maraton semuanya, jadi insya ALLAH bakal dibagi jadi dua bagian : 10 komik jilbab, disambung 1-2 komik tema lain, baru 10 komik jilbab sisanya. Biar gak bosen. OK? :)
 

alasan gak berjilbab #6

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Hayo, inget kriteria utama buat milih pasangan hidup adalah agamanya. OK? :) 

Komik yang ini sumber quote alasan dan balasannya dari Ust. Felix Siauw, dan saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan ^ ^
 
 
 

alasan gak berjilbab #7

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Rezeki kita sudah diatur sama ALLAH. Pertahankan jilbab, cari kerja yang halal, insya ALLAH pasti ada jalan :)

Oia, untuk komik alasan no.7 ini (juga komik-komik alasan setelahnya) ukurannya bakalan lebih kecil dibandingkan 6 komik sebelumnya. Ini karena scanner yang dipake beda. Harap maklum ya :)
 

alasan gak berjilbab #8

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Hayooo, pilih yang manaaa? :) 
 

alasan gak berjilbab #9

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Tergantung dari mana kita memaknai kata 'bebas', menurut saya jilbab itu 'pembebasan' :) 

BTW, ada sedikit tambahan (eh, agak banyak ding) di laman Tentang Blog Ini yang mungkin perlu dibaca. Monggo... :) 
 

alasan gak berjilbab #10

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Masih ingat kan sama hadits yang isinya tentang para shahabiyah yang saat ayat tentang hijab turun langsung menyambar kain apa saja yang ada di dekat mereka untuk menutupi aurat mereka? Yep, ini bukan budaya Arab, tapi bukti ketaatan pada ALLAH :)

Komik yang ini sumber quote alasan dan balasannya dari Ust. Felix Siauw, dan saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan ^ ^
 
 
 

alasan gak berjilbab #11

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Dan kalo ALLAH udah menyuruh, pasti baik buat kita :)

Balik lagi ke maraton. Semangaaat!! :D
 
 

alasan gak berjilbab #12

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Kalo teman-teman sering baca artikel kesehatan pasti tahu deh, bahwa memakai jilbab tuh bukannya bikin rambut dan kulit jadi rusak, tapi malah bikin jadi sehat dan terhindar dari penyakit yang berbahaya. Hayoo, dah pada baca belum?? :)
 

alasan gak berjilbab #13

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Kalo 'gaul'-nya sejalan dengan perintah ALLAH sih, ayo aja. Tapi kalo gak, ya mesti milih salah satunya kan? 
Komik yang ini sumber quote alasan dan balasannya dari Ust. Felix Siauw, dan saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan ^ ^

Subhanallah, bentar lagi Ramadhan!! Iyyeiii!!  :D
 

alasan gak berjilbab #14

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Gimana? Wajib gak tuh? :) 
 
 

alasan gak berjilbab #15

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

OK? :)
 

alasan gak berjilbab #16

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Saya sih gak melihatnya sebagai "fanatik dan ekstrimis". BTW, mereka yang ngomong gitu sudah tahu arti dua kata itu belum ya? Atau cuma asbun aja? Hm...
 
 

alasan gak berjilbab #17

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Kalau temen-temen perhatikan, alasan-alasan ini dari hari ke hari semakin kelihatan desperate aja ya, hehe. 

Oia, temen-temen yang mau usul artikel atau quote atau dialog buat dibikin komik, silakan lho. Seperti biasa, boleh usul lewat komen, juga boleh lewat email. Tapi, seperti biasa lagi, mungkin nunggu jadinya agak lama, soalnya ngantri dulu. OK? :)
 
 

alasan gak berjilbab #18

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Ayo ubah diri jadi pribadi yang lebih baik :)

Komik yang ini sumber quote alasan dan balasannya dari Ust. Felix Siauw, dan saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan ^ ^ 
 
 

alasan gak berjilbab #19

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)
 
Hidayah itu kayak cahaya, sementara kita kayak ada di suatu ruangan gelap tertutup yang berjendela. Kalo kita gak membuka jendela, gimana cahaya bisa masuk dan menyinari kita?

Tempat tongkrongan, teman yang kita pilih... Sudah sejauh mana tindakan kita agar hidayah datang pada kita?

PS: Besok maratonnya berakhir lho. Subhanallah, gak nyangka bisa sejauh ini :D Kalau bukan karena kehendak ALLAH, pasti gak bakalan bisa, yakin deh. Alhamdulillah.. :)
 
 

alasan gak berjilbab #20

(untuk memperbesar tampilan gambar, klik pada gambar)

Siapa yang jamin kita masih diberi umur sampe saat itu tiba? Ini bukan "better late than never", ini "now or never". OK?

Komik yang ini sumber quote alasan dan balasannya dari Ust. Felix Siauw, dan saya ambil dari blog Little Mujahidah dengan sedikit perubahan ^ ^ 

Daan... berakhir sudah maraton komik ajakan berjilbab ini. Alhamdulillah! :D Baru kali ini maraton panjang begini, jadi saya mohon maaf jika banyak kekurangan di sana-sini. Namun pastinya ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Semoga hal ini ke depannya bisa menempa saya untuk mempersembahkan yang lebih baik lagi. Aamiin...

PS: Buat penggemar Komik Panel, insya ALLAH besok Komik Panel muncul lho :)


Sumber :  Dhiba Ainisa Umarghanies - http://komikmuslimah.blogspot.co.id Sumber | republished by (YM) Yes Muslim ! Sumber : xxxxxxxxx

Selasa, 15 Desember 2015

Inilah 10 Hal yang Dibenci Allah SWT



Berbuat baik terhadap diri sendiri dan sesama makhluk menjadi perkara yang sangat dicintai Allah SWT. Hal inilah yang nantinya menjadi bekal di hari akhir untuk bisa mencapai surga abadi yang dijanjikan. Namun kurangnya pengetahuan dan iman, membuat manusia justru tanpa sadar melakukan hal yang dibenci oleh Allah. Kosongnya ilmu dari dalam diri menyeret hanyut kepada perkara-perkara yang seharusnya senantiasa dihindari.

Ada sepuluh hal yang sangat dibenci Allah SWT dan tidak seharusnya manusia terjerat di dalam perangkap tersebut. Beberapa perkara diantaranya ada yang disadari, namun ada sebagian perkara yang dianggap sebagai kesalahan kecil biasa. Misalnya seperti sifat malas para pemuda,  sifat tentara perang yang takut terhadap lawan, bahkan para ahli ibadah namun menyombongkan ketaatannya juga tidak luput dari kebencian Allah tersebut. Berikut ini 10 hal yang dibenci Allah SWT dan bisa menjadi pengetahuan bagi anda


1. Kikirnya orang-orang kaya
Kikir atau pelit merupakan penyakit hati yang timbul karena manusia terlalu cinta pada harta sehingga tidak mau bersedekah. Hal ini merupakan perkara yang dibenci Allah SWT terlebih jika dilakukan oleh orang kaya. Harta yang dimiliki seharusnya dimanfaatkan di jalan Allah atau disedekahkan.  Bukan justru disimpan dan enggan membantu sesama manusia yang membutuhkan. Allah SWT memperingatkan umat manusia agar tidak kikir terhadap harta yang telah Dia berikan. Allah juga memberikan  ancaman bagi manusia yang kikir dan bakhil terhadap harta yang mereka miliki seperti dalam surat Ali ‘Imran 180.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Ali ‘Imran 180].

“Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-nya, mereka kikir dengan karunia itu dan ia berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) (at Taubah : 76)

2. Takaburnya orang-orang miskin
Takabbur merupakan sikap sombong dan menganggap diri lebih dibanding dengan orang lain. Dalam kasus orang miskin yang memiliki sifat takabbur, memang menjadi sebuah penyakit yang sulit dimengerti. Tidak bisa dipahami kenapa sifat ini bisa dimiliki dengan kondisi yang minim harta orang masih bisa menyombongkan diri terhadap orang lain. Padahal orang kaya berharta saja yang memiliki kekayaan dan harta berlimpah tidak boleh menyombongkan diri kepada siapa saja. Pasalnya hanya Allah SWT yang boleh memiliki sifat ini karena Dia memiliki segalanya.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An-Nisaa’ : 36).

3. Rakusnya Para Ulama terhadap Dunia
Kebencian Allah SWT juga tidak luput dari para ulama yang menjadi perantara dalam menyampaikan kebaikan. Namun hanya kepada ulama yang rakus terhadap kehidupan dunia. Ulama sebagai penyeru akhlak dan moralitas hendaknya menyadari bahwa dirinya ditatap, disorot dan diamati oleh sekian ribu mata yang senantiasa menanti perilaku lurusnya. Sebagai pewaris para Nabi sudah sepantasnya mereka tidak terlalu berpikir mewariskan dunia pada anak-anaknya namun yang dia pikirkan bagimana mewariskan ilmu pada generasinya.

Sifat rakus demi dunia ini menyebabkan seorang ulama akan jauh dari perburuan pada akhirat dan melemahkan ummat. Para ulama yang mencintai semua hal yang bersifat dunia akan dipastikan kehilangan karisma dan martabat keulamaannya. Mereka biasa mendapat julukan sebagai ulama dunia atau ulama suu’ yang artinya ulama buruk.

“Celakalah bagi ummatku dari ulama buruk yang menjadikan agama ini sebagai komoditas, yang mereka jual pada para penguasa mereka di zamannya demi meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Allah pasti tidak akan menjadikan bisnis mereka memperoleh keuntungan “ (HR. Hakim).

4. Minimnya Rasa Malu Para Wanita
Secara fitrah wanita dihadirkan dengan perasaan malu yang luar biasa. Hal ini akan tercermin dari cara mereka berbicara, memandang, serta kelembutan-kelembutan yang terefleksi dari perilaku mereka yang senantiasa berhiaskan rasa malu. Maka bagi wanita yang minim rasa malu, maka Allah SWT akan membencinya. Misalnya biasa saja menampakkan auratnya di hadapan pria yang bukan suaminya. Malu adalah mahkota seorang wanita, dan kehilangan rasa malu sama dengan kehilangan mahkotanya. Maka jangan heran jika Allah murka karena maksiat mereka.

5. Orang yang Sudah Tua Renta Namun Tetap Mengejar Dunia
Mungkin diantara kita pernah mendapatkan pengalaman memiliki kakek atau nenek yang sudah tua namun tetap mengejar dunia. Tidak jarang tindakan mereka ini membuat gerah cucu-cucunya mengingat waktu mereka sudah seharusnya digunakan hal-hal yang berkaitan dengan mengejar akhirat. Orang tua renta seharusnya mempersiapkan segala hal untuk kematiannya. Orang tua yang masih senang dunia, mabuk di dalamnya, berebut kenikmatannya yang hanya sementara tentu saja sangat Allah benci. Apakah mereka tidak sadar bahwa dunia akan segera ditinggalkannya, lalu untuk apa dia masih berburu dunia dengan penuh tamak dan cinta yang melampui batas.

6. Malasnya Para Pemuda
Pemuda yang malas juga akan mendapatkan kebencian dari Allah SWT. Pada masa ini, pemuda diharuskan mengoptimalkan segala kemampuannya untuk bekerja mempersiapkan hari tua. Masa muda adalah masa gelora kehidupan mereka. Selain itu, juga akan menjadi penentuan masa depan yang sesungghnya.

Kemalasan anak muda menjadi indikasi bahwa mereka akan hidup susah di hari tuanya. Maka malasnya pemuda adalah alamat awal dari suram dan buramnya masa depan mereka. Inilah mengapa Allah membenci anak mudah yang memiliki sifat yang malas. Rasulullah menghimpun orang-orang mulia dalam tujuh golongan diantaranya adalah pemuda yang enerjik. Rasulullah bersabda :

“Tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Peminpin yang adil, pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya senantiasa terpaut ke mesjid tatkala dia keluar darinya hingga dia balik kembali, dua lelaki yang saling mencinta karena Allah. Dia berkumpul karenanya dan berpisah karenanya pula. Lelaki yang mengingat Allah sendirian kemudian kedua matanya mengalirkan air mata, lelaki yang dipanggil oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan cantik lalu dia berkata : Sesunggguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam, seseorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Malik, Tirmidzi, Bukhari Muslim).

7. Kejinya Para Penguasa
Peminpin sebagaimana diisyaratkan hadits di atas juga seharusnya berbuat adil bukan berlaku kejam agar mereka mendapat naungan Allah di hari kiamat. Keadilan mereka sangat ditunggu dan dirindu oleh rakyat. Karena harapan keadilan memang bertumpu pada para penguasa itu. Keadilan adalam dambaan setiap orang, cita setiap insan. Tatkala seorang penguasa yang seharus adil berubah menjadi keji maka kemurkaan Allah yang demikianpedih telah menunggu mereka. Karena Allah sangat tidak suka pada mereka yang berbuat zhalim. Allah berfirman : Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang dzalim (Ali Imran : 151).

8. Pengecutnya Para Tentara Perang
Jika anda berniat menjadii tentara perang, maka anda harus berani melawan siapa yang menjadi musuh-musuh. Biasanya mereka yang terpilih dalam perang merupakan manusia pilihan untuk membela agama dan tanah airnya, Jiwa prajurit adalah jiwa ksatria yang pantang menyerah pada musuh. Jika sikap ini luntur, inilah yang akan menjadi kebencian dari Allah SWT.

Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur) (Al-Anfaal : 15).

9. Ujubnya Para Zahid
Ujub adalah penyakit hati yang bisa menyerang siapa saja. Tidak terkecuali pada zahid yang banyak menghindari dunia dan lebih dekat pada akhirat. Namun kezahidan mereka akan menuai murka Allah jika dalam kezahidan itu bergemuruh ujub yang membuncah dalam ucapan dan perilaku mereka Rasulullah bersabda yang artinya

Tiga perkara yang menghancurkan : kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ujub dengan pendapat sendiri (HR. Bazzar dan Ath-Thabrani).

10. Riya’nya para ahli ibadah
Allah SWT juga membenci para hali ibadah namun riya menyelimuti seluruh ritual ibadahnya. Mereka biasanya menginginkan pujian dari manusia. Padahal riya’ itulah syirik kecil yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah agar kita meninggalkannya.

Maka, jika kita menjadi orang kaya dermawanlah pada sesama. Jika kita ditakdirkan menjadi seorang miskin lebih rendah hatilah pada manusia. Jka kita menjadi ulama janganlah rakus pada dunia. Jika Anda seorang wanita maka ingat bahwa mahkota Anda ada pada rasa malu Anda. Jika kita telah tua renta maka segeralah rakus pada akhirat. Jika jika masih muda maka semangatlah bekerja untuk mengisi amanah khilafah di dunia yang Allah bebankan kepada Allah.

Sumber - Republished by (YM) Yes Muslim ! Sumber : xxxxxxxxx

Sifat Bakhil, Membuat Diri Anda Jadi Terhina


 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYCVm3HV1RzSnbY5JQFEWEt8BKrmhmT7QaKd8HsaF6aGkpK8XpUFsuUwr7pAjmhfltfjZJxUc2z-IU3iHPBslpezwlikDGujWeTydI-Uq0g8abJjXzTuQct4ydFDfegNUnGQbUs6SN5MM/s1600/bakhil.jpg

ORANG yang bersifat dermawan tentu menjadi salah satu yang paling dikasihi dan disanjungi oleh banyak orang. Keberadaan mereka sangat memberikan arti yang begitu baik bagi orang lain. Bukan hanya itu, Allah SWT juga mencintainya dengan kebaikan yang telah diperbuatnya.

Sebagaimana Abu Hatim RA mengatakan, “Tidak ada kebaikan dalam harta kecuali disertai dengan kedermawanan.”

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwasanya banyak dari kita yang masih memiliki sifat bakhil, atau enggan untuk memberi. Mereka inilah yang sangat sulit untuk mengeluarkan sedikit hartanya bagi orang lain yang membutuhkan. Ego dan hawa nafsu begitu mempengaruhi, sehingga membuatnya begitu berat untuk berbuat kebaikan pada orang lain.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglvaSxPnIsAshxT1G68B-OTIua4bOOk2eWv94VVkMpMG7KUV8GnZxF6RHyV94eZ66ux9FFHzOr7KPlKJiK-mFUf5X-kuKw9Eam2bv6C8bSXNjkaA5jqS7IL0QXYbUdZ2_mT15eZb_bz04I/s1600/kikir.jpg

Tahukah Anda, bahwa orang bakhil itu merupakan orang yang hina. Mengapa demikian? Lihatlah di lingkungan sekitar kita, bagaimana orang-orang yang memiliki kelebihan harta tapi enggan memberi memiliki kedudukan yang tidak begitu berarti di masyarakat. Banyak orang yang enggan untuk bergaul dengannya sepenuh hati. Kalaupun ada, orang itu pasti memiliki pikiran buruk di balik kebaikannya.

Hal ini telah jelas diutarakan oleh Abu Hatim RA, “Bakhil itu dicela dan dibenci.” Dan ternyata memang benar demikian. Di dunia saja sudah tidak ada yang mengindahkan keberadaannya, apalagi di akhirat kelak. Sebab, bakhil termasuk dalam sifat yang tercela. Sehingga, Allah SWT dan Rasul-Nya tidak menyukai orang-orang yang memiliki sifat ini.

Al-Muntashir bin Bilal RA berkata, “Sifat dermawan itu mulia dan sifat bakhil itu tercela.”

Sumber

Kisah Hidayah Keluarga Katolik Yang Akhirnya Mendirikan Pesantren



 Agnes adalah sosok wanita dari keluarga Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan, “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.





Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa.”

“Papah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya,” lanjutnya.

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.

“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar ‘bisikan’ yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu ‘bisikan’ kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.
Sepeninggal Rio …

Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.”

Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”
“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000.

Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bermimpi bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan dalam mimpinya, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat Agnes tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.

“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih.

Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam …

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.

Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat.

Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat.

Hingga mereka wakafkan 7 hektare tanah yang dimiliki untuk membangun sebuah pondok pesantren di wilayah Bandung, Jawa Barat dengan nama pesantren Baitul Hidayah.[Waluyo Raharjo/islamedia/YL]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim ! Sumber : xxxxxxxxx

Belajar Tips Bersabar Bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

http://4.bp.blogspot.com/-azjkUJANFKg/UaR0xUG9SQI/AAAAAAAAAjg/tU0AeA8AkOQ/s1600/sabar-itu-pahit.jpg

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar (dalam menghadapi gangguan manusia) ini..." 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar (dalam menghadapi gangguan manusia) ini.

Pertama: Dengan mengikrarkan bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan para hamba-Nya; baik geraknya, diamnya, bahkan keinginannya. Maka, apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sebaliknya yang tidak Dia kehendaki takkan terjadi. Sehingga tidak ada satupun partikel di alam ini bisa bergerak, baik di alam yang atas maupun di alam yang bawah, kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Jadi semua hamba itu hanyalah alat. Maka, lihatlah kepada Dzat yang menjadikan manusia itu mengganggumu, jangan kau lihat kelakuan (buruk) mereka terhadapmu; niscaya kamu akan menjadi tenang, tidak galau, tidak pula sedih” (Jami’ul Masa’il, 1/168).

Intinya, ketika Anda disakiti orang lain, maka ingatlah bahwa tindakan dia itu adalah bagian dari ciptaan Allah, ia tidak akan terjadi melainkan setelah diizinkan dan dikehendaki oleh Allah ta’ala.
Jika itu atas kehendak Allah, mengapa Anda galau dan sedih?! Bukankah Dia Maha Baik dan Maha mengasihi hamba-Nya. Sungguh, Dia tidaklah menginginkan dari musibah itu, melainkan kebaikan untukmu.

Beliau melanjutkan,

“Hal kedua yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah: dengan mengakui dosa-dosanya, bahwa Allah menjadikan mereka melakukan hal buruk kepadanya adalah karena dosa yang ada padanya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Musibah apapun yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh tangan-tangan kalian sendiri, padahal Dia telah banyak memaafkan“. (Asy-Syuro: 30).

Maka, apabila seorang hamba menyadari bahwa semua musibah yang dialaminya adalah disebabkan dosa-dosanya, tentu dia akan menyibukkan dirinya dengan taubat dan istighfar dari dosa-dosanya, karena itulah yang menjadi penyebab datangnya gangguan mereka terhadapanya.

Dengan begitu, dia akan terhindar dari tindakan mencela mereka, atau menyalahkan mereka, atau menjelek-jelekkan mereka. Bila engkau melihat seseorang menjelek-jelekkan manusia saat mereka menyakitinya, dan dia tidak introspeksi diri dengan menyalahkan dirinya dan beristighfar, maka ketahuilah bahwa musibahnya memang benar-benar nyata. Dan apabila hal itu menjadikannya bertaubat, beristighfar, dan mengatakan “ini memang karena dosa-dosaku”, maka musibah itu menjadi kenikmatan yang ada pada dirinya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib –rodhiallohu’anhu– telah mengatakan pesan mutiara: “Jangan sampai seorang hamba berharap melainkan kepada Rabb-nya, dan jangan sampai seorang hamba khawatir kecuali terhadap dosanya“.

Diriwayatkan pula dari beliau dan yang lainnya: “Tidaklah musibah turun, melainkan karena sebab dosa. Dan tidaklah ia diangkat, melainkan dengan taubat“” (Jami’ul Masa’il, 1/169).

Intinya, jika Anda diganggu atau disakiti orang lain, maka ingatlah bahwa penyebabnya adalah dosa-dosa yang Anda lakukan. Oleh karenanya, tidak perlu Anda membalasnya, tapi sibukkan diri dengan banyak istighfar dan taubat, sehingga musibah itu diangkat oleh Allah ta’ala. Dengan langkah ini pula, kita bisa menjadikan musibah itu mendatangkan nikmat kebaikan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbvf3gvv-htZsDywmPBVa74AiupTEsOWnNIXcZ_gKXVG3DqkEh-hygXAey5fd4zqI76nRrBQgjZWqoXaMPsKHa2EI2w0xfkxBvJV856YfS87Mtu-rwsVyWuEnD_VHzhErqwE3aIqlxnt0/s1600/sabar+2.png

Beliau melanjutkan,

“Hal ketiga yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah: dengan mengingatkan diri akan indahnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya): “Balasan keburukan adalah keburukan yang semisal dengannya. Namun siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk padanya), maka pahalanya ditanggung Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim“. (Asy-Syuro: 40).

Di dalam ayat ini, Allah menyebuntukan kelas-kelas manusia dilihat dari sikap mereka ketika diganggu:
  1. Orang yang zalim, yaitu orang yang membalas keburukan melebihi batasan haknya. Ini Allah sebut di akhir ayat.
  2. Orang yang proporsional (muqtashid), yaitu orang yang membalas keburukan sesuai batasan haknya. Ini Allah sebut di awal ayat.
  3. Orang yang mulia (muhsin), yaitu orang yang memaafkan dan meninggalkan haknya sama sekali. Ini Allah sebut di tengah ayat.
Hendaknya seorang hamba juga mengingat panggilan kehormatan di hari kiamat nanti: “Berdirilah, orang pahalanya dalam tanggungan Allah!”, maka tidaklah dapat berdiri melainkan orang yang mengampuni dan berbuat baik kepada orang yang menzaliminya.

Ketika, seseorang ingat hal ini, dan juga mengingat bahwa pahala agung itu akan luput darinya dengan tindakan membalas dan mengambil penuh haknya, tentu akan menjadi mudah baginya untuk bersabar dan memaafkan” (Jami’ul Masa’il, 1/169).

Intinya, dengan mengingatkan diri kepada pahala agung yang dijanjikan Allah ta’ala kepada hamba yang bersabar dan memaafkan saat dizalimi, bahkan di akherat nanti akan mendapatkan panggilan kehormatan. dan dengan membalasnya, dia akan kehilangan kesempatan untuk meraih pahala besar tesebut. maka, kita akan semakin mudah untuk bersabar dalam menghadapi gangguan dan celaan orang lain.

Beliau melanjutkan,

“Hal keempat yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah: dengan mengingatkan diri, bahwa jika memaafkan dan berbuat baik kepadanya, itu akan menjadikan hatinya bersih dari membenci saudaranya, hatinya akan suci dari kebencian, kedengkian, niat balas dendam, dan niat buruk lainnya.

Dengan begitu, akan tumbuh pada dirinya manisnya memaafkan. bahkan kelezatan dan manfaat memaafkan itu -baik yang sekarang ataupun yang nanti- menjadi berlipat-lipat melebihi kepuasan yang timbul dari tindakan membalas dendam.

Dan itu masuk dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): “Allah mencintai orang-orang berbuat baik“. (Alu Imron: 134), maka jadilah dia hamba yang dicintai Allah. Dengan demikian, keadaannya seperti orang yang diambil darinya satu dirham perak, lalu dia mendapatkan ribuan dinar emas sebagai gantinya. Tentu saat itu dia akan senang tiada tara atas balasan yang diberikan Allah kepadanya” (Jami’ul Masa’il, 1/169-170).

Intinya, Ingatlah bahwa dengan bersabar dan memaafkan orang lain, hati Anda akan sehat dan bersih dari penyakit hati. bahwa manfaat dan kelezatan yang ditimbulkan oleh sikap memaafkan, jauh lebih besar dan berlipat-lipat melebihi manfaat dan kepuasan yang ditimbulkan oleh sikap membalas dendam. biarlah orang lain mengambil satu dirham perak dari Anda, bila dengannya Allah berikan untuk Anda ribuan dinar emas.
Beliau melanjutkan,

“Hal kelima yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah: dengan mengingat bahwa tidaklah seseorang memilih sikap balas dendam untuk dirinya, melainkan Allah tinggalkan padanya kehinaan yang dia rasakan pada dirinya. sebaliknya, apabila dia memaafkan, maka Allah ta’ala akan memuliakannya.

Inilah yang dikabarkan oleh Nabi –shollallohu alaihi wasallam-: “Tidaklah Allah menambahkan untuk seorang hamba karena sikap memaafkan, melainkan kemuliaan“. (HR. Muslim: 2588).

Maka, kemuliaan yang timbul dari sikap memaafkan itu lebih baik dan lebih bermanfaat baginya, melebihi kemuliaan yang timbul dari sikap membalas dendam. Karena balas dendam hanyalah kemuliaan yang tampak secara lahir, tapi ia meninggalkan kehinaan dalam batin. Adapun sikap memaafkan, mungkin manusia melihatnya kehinaan, namun sikap itulah yang sebenarnya memberikan kemuliaan lahir dan batin” (Jami’ul Masa’il, 1/170).

Intinya, ingatlah terus sabda Nabi –shollallohu alaihi wasallam-, bahwa Allah akan menambah kemuliaan seseorang dengan sikap memaafkan, dan kemuliaan ini mencakup kemuliaan lahir dan batin. Hal ini merupakan bantahan bagi anggapan sebagian orang, bahwa tindakan memaafkan adalah sikap lemah dan hina, sungguh ini anggapan yang salah karena jelas-jelas menyelisihi sabda Nabi –shollallohu alaihi wasallam-.

Beliau melanjutkan,

“Hal keenam yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah: dengan meyakini bahwa “balasan itu sesuai dengan jenis amalan“, dan bahwa dirinya adalah seorang yang zalim dan banyak berdosa. bahwa orang yang memaafkan manusia; Allah akan memaafkan dosanya, dan orang yang mengampuni kesalahan manusia; Allah akan mengampuni kesalahannya.

Maka, apabila dia meyakini bahwa sikapnya memaafkan, melupakan kesalahan orang, dan berbuat baik kepada mereka yang mengganggunya, adalah sebab Allah melakukan hal yang sama terhadapnya, sehingga dengannya Allah akan memaafkannya, melupakan kesalahannya, dan memberikannya kebaikan walaupun dia banyak dosa. tentu dengan keyakinan seperti ini, dia akan mudah memaafkan dan bersabar atas gangguan orang terhadapnya. Dan sungguh ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang menggunakan akalnya” (Jami’ul Masa’il, 1/170).

Intinya, jika ingin dosa-dosa Anda diampuni Allah, serta mendapatkan banyak kebaikan dan nikmat Allah meski Anda banyak salah. lakukanlah hal yang sama kepada manusia, banyaklah memaafkan mereka dan berikan kebaikan kepada mereka, walaupun mereka banyak salah kepada Anda. karena “balasan itu sesuai dengan amalan yang Anda lakukan“.

Beliau melanjutkan,

“Hal ketujuh yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia: hendaklah dia tahu, bahwa bila dia menyibukkan dirinya dengan tindakan balas dendam dan menuntut haknya, maka waktunya akan banyak terbuang, hatinya akan terpecah (tidak konsen), dan akan banyak maslahat yang hilang darinya selamanya. Dan mungkin saja efek-efek yang ditimbulkan ini, malah jauh lebih besar dari musibah pertama yang datang kepadanya.

Nah, bila dia memaafkan dan melupakan; tentu hati dan jasmaninya akan bisa konsen untuk meraih banyak maslahat yang diinginkan, yang tentunya ini lebih penting baginya, daripada sekedar menuntut balas dendam” (Jami’ul Masa’il, 1/171).

Intinya, untuk apa balas dendam, jika hal itu malah akan menambah berat musibah yang kita rasakan. Cukuplah musibah yang ada, jangan menambahnya dengan musibah yang lebih besar lagi. Bersabarlah dan maafkan kesalahannya, sehingga Anda bisa fokus untuk meraih banyak kebaikan yang terbentang di depan Anda.

Beliau melanjutkan,

“Hal kedelapan yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain adalah: mengingat bahwa sikap dia membalas dan melakukan pembelaan adalah untuk dirinya. padahal Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam– tidak pernah sekalipun membalas dendam untuk dirinya.

Apabila makhluk terbaik dan paling mulia ini, tidak pernah menuntut balas dendam, padahal menyakitinya sama dengan menyakiti Allah dan ada hak-hak agama yang berkaitan dengannya. Bahkan beliau adalah orang yang paling mulia, paling suci, paling baik, serta paling jauh dari semua tindakan tercela, dan paling berhak dengan setiap akhlak yang indah. Namun demikian, beliau tidak pernah menuntut balas untuk dirinya
.
Lalu bagaimana pantas seorang seperti kita menuntut balas dendam untuk dirinya, padahal dia tahu keadaannya dengan berbagai aib dan keburukannya. Orang yang tahu hakekat dirinya, tentu akan menyadari bahwa dirinya tidak pantas untuk balas dendam, dia akan merasa bahwa kedudukan dirinya tidak pantas untuk mendapatkan pembelaan” (Jami’ul Masa’il, 1/171).

Intinya, lihatlah Nabi –shollallohu alaihi wasallam-, beliau saja yang merupakan makhluk terbaik dan termulia, tidak pernah membela dirinya dengan balas dendam. apalagi diri kita yang banyak aib dan dosanya. Sabar dan maafkanlah, untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih tinggi dan abadi.

***
Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc. MA.

 


Sumber